Jumat, 24 Juni 2016

BURDAH CINTAKU

“Burdah Cinta”
##
Apakah karena ingat kekasih yang berada di tangan Allah, kau cucurkan air mata bercampur darah?
Ataukah karena angin yang bertiup dari arah Kazimah ataukah karena teringat cahaya kilat dalam gelap malam di ujung lembah?
Kalau tidak, mengapa kedua matamu tetap mengalir yang mestinya kau mampu menahannya dan kenapa hatimu tetap gundah padahal kau mampu menentramkannya?
Adakah orang yang sedang kasmaran menyangka bisa merahasiakan rasa cinta? Sedangkan airmatanya bercucuran dan hati masih terbakar api cinta?
Kalau tiada rasa cinta, tentulah kau tak akan mencucurkan air mata saat teringat puing-puing rumah kekasih dan tidak akan terjaga sepanjang malam saat teringat pepohonan dan rumput-rumput di tempat kekasih
Kenapa kau masih malu akan cintamu, padahal kejujuran air mata, sakit-sakitan  adalah menjadi saksi atas cintamu?
Rasa susah menetapkan dua garis  yang terletak di kedua pipimu yang kuning pucat karena sakit dan mata merahmu yang selalu menangis mencucurkan air mata (itu adalah bukti cintamu)
Iya ... orang yang aku rindukan tiap malam, bayangannya nampak di depan mataku yang membuatku tak bisa tidur , memang sakitnya cinta itu menghalangi kenikmatan
Maafku untukmu wahai para pencela gelora cintaku, seandainya kau bersikap adil tak kan kau cela aku
Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku, padahal tidak juga kunjung sembuh penyakitku
Begitu tulus nasihatmu tapi tak ku dengar semuanya karena untuk para penghalang cinta, sang pencinta itu tuli telinganya
Atau kukira kurus tubuhku pun turut mencelaku, padahal tubuh kurusku pastilah tulus mengingatkan aku
Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan, sebab tak tak mau tahu peringatan tubuh kurus dan sakit-sakitan
Tidak pula siap dengan amal baik untuk menjamu, sang tubuh kurus yang bertamu di jasadku tanpa malu-malu
Jika kutahu aku tak menghormati kurus di tubuhku bertamu, kan kusembunyikan dengan baju-baju tebal demi merahasiakan kekurusanku
Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan, sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang?
Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat, sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu, bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu
Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa, jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela
Gembalakan ia, ia bagai ternak dalam amal budi, janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai
Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan, tanpa ia tahu racun justru ada dalam kelezatan makanan
Takutlah akan tipu daya dalam lapar  dan kenyang, sering kali rasa lapar lebih baruk dari pada kekenyangan
Cucurkanlah air matamu karena melihat segala yang haram, peliharalah selalu rasa penyesalan yang mendalam
Lawanlah hawa nafsu dan setan, durhakailah, bila mereka tulus menasehatimu, curigailah....
Jangan kau taati mereka sebagai musuh atau kawan, karena kau tahu bagaimana tipu daya musuh dan kawan
Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa kuperbuat, kusamakan itu dengan anak kecil yang nakal dan seenaknya berbuat
Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang sebenarnya tak kulakukan, tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau melakukan
Karena aku pun masih tiada punya tiang untuk kupegang... Seraya berharap kita mampu membelahnya sekadar menancapkan rumah dan tangga yang selalu terbayang...


SAZ
Juni 2016

tersadur dari goresan tinta Sang Imam Al-Busyiri

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar