Suatu pagi, Radhin dan adiknya, Hunaida, siap-siap berangkat ke sekolah. Sebelum itu, sang ibu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dua mangkuk bubur ayam dan dua cangkir teh hangat sudah siap sedia di atas meja.
“Ummi. Kok sarapan bubur lagi sih?”, tanya Radhin dengan raut mengeluh.
“Aduh, kakak. Jangan bilang kayak gitu sayang. Kita harus bersyukur masih
makan bubur. Lihat tetangga sebelah, kemarin dia cuma makan nasi kering sisa dua
hari yang lalu.”
“Tapi Adhin mau sarapan sandwich dan susu kayak teman-teman di
sekolah, Ummi”, sanggahnya. Mata dan tubuh kecilnya belum paham isi nasihat
ibunya.
“Iya, sayang. Kapan-kapan ummi pasti belikan semua itu buat kalian berdua,
insya Allah”, hibur sang ummi. Radhin pun senang.
Cerita singkat di atas memang sederhana dan wajar. Radhin pun memang masih
kecil. Belum paham arti nasihat ibunya. Tapi ada yang perlu digarisbawahi. Apa
itu? Dialah kata “Bersyukur”.
Bersyukur? Ya. Itulah hal yang paling kita lupakan selama ini, ia juga
merupakan sesuatu yang mudah tapi sulit. Sebagai manusia, apalagi seorang
muslim, bersyukur adalah keharusan. Bersyukur kepada Allah atas apa yang telah
Tuhan karuniakan kepada kita. Bersyukur atas apa yang Dia takdirkan dalam
kehidupan ini.
Meminjam istilah dari seorang motivator, “Bersyukur tak semudah makan
bubur”, sangatlah benar adanya. Makan bubur, siapa pun yang suka, pasti mudah.
Tinggal beli dan lahap sepuasnya. Beres, kan? Tapi bersyukur? Apa bisa? Kalau
lagi ingat, kalau tidak?
Hal-hal terkecil di dunia ini sering kali kita sepelekan. Semisal, mata
yang dapat melihat, telinga yang mampu mendengar, hidung yang digunakan untuk
bernafas, lidah yang lihai mengecap berbagai rasa, tangan yang berkuasa untuk
menyentuh, memegang, menggenggam, sampai menekan apa pun, juga kita punya kaki
yang cepat melangkah. Apakah semua itu sudah kita syukuri? Jangan-jangan,
desahan nafas dan kedipan mata yang tak pernah kita hitung pun tak pernah kita
syukuri. Kalau yang sepele seperti semua itu saja kita tak mampu mensyukurinya,
apalagi untuk yang bersifat materi dan abstrak seperti harta, jabatan, ilmu dan
kepribadian yang kita miliki ini? Bagaimana kita bisa bersyukur?
Belum lagi hal-hal yang paling spesifik yang kita punya masing-masing.
Keahlian menulis dan berorasi, kemampuan berbisnis dan berkarir, kemampuan
akademik dan non-akademik, dan sebagainya. Kehidupan kita di dunia ini
menyimpan banyak sesuatu yang harus kita syukuri, dengan segala fasilitasnya, di
bumi ini terdapat alam yang indah, buah-buahan, makanan dan minuman,
hewan-hewan dan semua benda dan kekayaan alam yang kita ekploitasi
terus-menerus, dan banyak lagi. Semua itu tersedia untuk kita makhluk-Nya. Ya
Allah, apa lagi yang kami tak syukuri?
Bersyukur memang harus diawali dari hal-hal yang paling remeh sekalipun
agar kelak terbiasa mensyukuri nikmat yang lebih dari itu. Ada sebuah cerita. Pernah
ada seorang wanita, dia ingin sekali mendapatkan seorang suami yang tampan,
gagah dan kaya raya. Namun takdir berkata lain, dia akhirnya bersuamikan
seorang laki-laki biasa, tidak tampan tidak juga gagah, dan hidupnya pun di
rumah kecil dan sangat sederhana. Yang dia punya, hanya kesetiaan.
Suatu hari si wanita mengeluhkan keadaan suaminya yang apa adanya dan hanya
tinggal di rumah kecil dan sederhana itu.
Si suami pun menghibur sang isteri,
“Sayang, kamu harus tetap bersyukur memiliki suami seperti Abang, walaupun
abang cuma punya rumah kecil ini yang penting ‘kan ini rumah kita sendiri.
Lihat, tetangga sebelah masih mengontrak.”
Suatu saat mereka ditakdirkan mengontrak rumah karena rumah mereka dijual.
Si isteri akhirnya mengeluh. Sang suami pun menghiburnya kembali,
“Sayang, kita harus tetap bersyukur masih bisa tinggal di kontrakan ini.
Lihat, orang lain masih ada yang tinggal menumpang di mesjid.”
Nasib sungguh nasib, karena sulit membayar sewa rumah, pada tahun
berikutnya, mereka pun harus tinggal menumpang di mesjid. Si isteri akhirnya
mengeluh lagi. Sang suami tak berhenti untuk menghiburnya,
“Sayang, kita harus tetap bersyukur masih bisa tinggal di mesjid ini. Lihat,
orang lain masih ada yang tinggal di kolong jembatan.”
Karena ulah sang isteri, suatu hari mereka berdua diusir dari mesjid itu.
Sang suami tetap bersabar. Dia pun menghibur isterinya saat dia mengeluh
akhirnya mereka harus tinggal di kolong jembatan.
“Sayang, kita harus tetap bersyukur masih bisa tinggal di kolong jembatan
ini, yang penting kita masih diberi kesehatan oleh Allah Swt. Lihat orang lain,
meskipun kaya raya, tapi mereka ada yang sakit parah dan harus ‘tinggal’ di
rumah sakit.”
Setelah lama tinggal di kolong jembatan itu, Allah pun menguji sang isteri
dengan mengirim penyakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit.
“Isteriku, tetap sabar ya. Allah sayang sama kamu. Kita harus tetap
bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan oleh Allah Swt.
Lihatlah sayang, di ruang sebelah, pasien yang kemarin datang itu kini sudah
dipanggil Allah Swt ke haribaan-Nya.”
Sang isteri pun menangis tersedu. Menyesali semua sikap buruknya selama
ini.
“Abang, maafkan saya ya.”
“Iya, sayang. Semua ini adalah takdir Tuhan yang harus tetap kita syukuri.
Kamu jangan bersedih, masih ada Abang di sini”, hibur sang suami dengan pelukan
nan erat.
Nah, bagaimana pemirsa? (maksudnya; pembaca, ^_^), nikmat Allah yang mana
lagi yang masih kita lupakan untuk disyukuri? Ya Rahiiim igfir lana.
Syukur, kapan pun dan di mana pun, tetap harus terpatri dalam diri kita
yang lemah ini. Betul, tidak?
/SAZ, 2013/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar