Wallahi...
kalau mau mengakui, sedih rasanya selama ini bila melihat beliau dipandang sebelah
mata oleh sebagian masyarakat, terutama oleh para pembenci da’i selebriti yang
menganggap bahwa da’i selebriti hanya memanfaatkan popularitas untuk
eksploitasi dakwah dan ajang meraup berkah. Padahal, kalau memperhatikan
bagaimana kisah hidupnya, kisah dakwahnya, dan kisah wafatnya, Allahu yarham,
sungguh membuat hati sedih dan terharu dicampur bangga serta penuh sesal karena
belum sempat bertemu dengan beliau.
Apalagi
bila membaca tulisan di akun twitter beliau sebulan sebelum kematiannya, betapa
kita akan tergugah untuk mengakui bahwa kita memang harus bertaubat sebelum
ajal menghampiri kita tanpa diketahui kapan datangnya.
“Semua pasti akan
menemui yang namanya titik jenuh. Dan pada saat itu, kembali adalah yang
terbaik. Kembali pada siapa?? Kepada ‘DIA’ yang pastinya. Bismika Allahumma
ahya wa amuut “.
Empat
puluh tahun, adalah angka terbaik yang Allah pilih untuk mengisi umur dan usia
sang ‘Ustadz Gaul’ ini. Dari 12 April 1973 hingga 26 April 2013. Takdir
kematian yang semuda, se-‘mendadak’ dan secepat itu dia rasakan, sementara
jutaan ummat sangat mencintai dan masih ingin menggali rahasia
nasihat-nasihatnya, adalah bagian dari bukti betapa suami Teh Pipik bukanlah
‘orang biasa’. Puluhan ribu jamaah Masjid Istiqlal Jakarta adalah saksinya.
Siang itu, bakda shalat Jumat, jenazah Ustadz Jefry Al-Bukhary dishalatkan oleh
seluruh jama’ah masjid negara itu. Sebelumnya, firasat kepergiannya pun sempat
tercium oleh rekan dekatnya, Ustadz Soleh Mahmud yang pernah dihadiahi cincin
dan peci pada suatu hari. Setelah mengisi ceramah di sebuah tempat, Uje
mewasiatkan kepada Ustadz Soleh untuk segera meneruskan tugas dakwahnya itu.
Hal ini melahirkan firasat yang tak baik buat Ustadz Soleh. Tidak lama
kemudian, di bulan April 2013, Uje benar-benar telah tiada.
Di
antara deretan da’i muda di Indonesia, beliau adalah salah satu pewaris ‘gaya’
campuran semua da’i. Hampir semua sahabatnya, terutama sesama da’i selebriti,
–secara tak langsung- mengakui hal itu. Gaya retoriknya terinspirasi dari KH
Zainuddin MZ sang da’i sejuta ummat. Kekhasan gaya gaul-nya mengingatkan kita
pada sosok Habib Metal dan Ustadz Alwi Assegaf Muysrif Al-Busyro. Kerendah-hatiannya
merupakan lukisan dari kepribadian para muballigh kharismatik Indonesia
sekaliber KH Hasyim Muzadi, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), KH Arifin Ilham,
Syeikh Ali Jaber dan lain-lain. Kerendah-hatian lelaki yang akrab disapa Uje
ini tercermin dalam kalimat khas dalam pendahuluan ceramahnya; “Hadirin yang
mulia. Mohon maaf, punteun, yang berbicara ini tidak lebih baik dari
yang mendengarkan” (hingga diulang 3 kali).
Meski
pernah singgah di dalam dunia narkoba dan pergaulan bebas, Uje sang ustadz
pecinta moge ini akhirnya ‘berhasil’ kembali pada fitrah terbaiknya sebagai
muslim sejati yang berusaha menjadi khairun-naas. Dalam suatu majelis
ilmu, dengan mengutip kisah hidupnya sebagai ‘ibrah, Uje mengatakan
bahwa setiap muslim sebenarnya laksana emas yang berharga. Emas, di mana pun berada, tetaplah emas,
meski harus ‘kecebur’ di dalam got. Apabila emas itu kita ambil lalu dicuci,
maka kembalilah dia bersih dan berkilau. Seperti itulah umpama muslim sejati.
Seberapa pun dosa dan khilaf yang dia perbuat, akan kembali bersih bila
benar-benar mau bertaubat.
Terlepas
dari semua latar belakang riwayat hidupnya yang sempat pernah nyleneh,
namun Uje tetaplah Uje. Dialah muballigh muda sang penebar nasihat dan hikmah. Salah
satu isi ceramahnya yang terakhir di acara Damai Indonesiaku - TV One,
menuntunku menggores inspirasi ini:
“Hikmah
dari beriman kepada takdir Allah adalah;
Pertama, agar tidak berputus asa karena mendapat cobaan dan musibah. Kedua,
agar tidak sombong karena mendapat nikmat dan anugerah. Dan, mati adalah
takdir Allah yang tak bisa dirubah”.
Selamat
jalan, Uje.. Jejak langkahmu dalam dakwah adalah mutiara yang tak
mungkin punah. :’) Allahummagfir lahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu anhu.
Aamiin.
SAZ,
April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar