"Binar Mata Orang-orang Tercinta"
Sa’dullah AZ
Mohon kritik dan sarannya dari pembaca
# Abdullah Zarkasy #
Aku pulang. Seperti biasanya kulanjutkan tugas berat akhir-akhir ini, menghadapi permasalahan keluargaku. Meski aku jua harus tahu diri, aku mahasiswa. Puluhan tugas ustadz dan rapat di organisasi tak mungkin bisa aku tinggalkan. Untungnya training tadi siang selesai lebih cepat. Jadi aku bisa pulang ke rumah lagi untuk bisa menemui keluargaku.
Hari ini adalah hari ke-7 bagi Abiku1, Zakaria Ghafur yang mengidap penyakit aneh, mirip darah tinggi yang menurut dokter, itu bukan darah tinggi. Sebagian warga di desaku bahkan menyebutnya penyakit sihiran. Entahlah, aku tak mengerti. Yang jelas aku harus terus berjuang menghadapi tantangan ini. Hari ini juga adalah hari ke-29 bagi kakakku, Ahmad Latif, yang harus rela kehilangan literan darah di kaki karena luka parah setelah mengalami kecelakaan motor di jalan utama Iskandar. Adikku, Hafidz, masih trauma dengan sekolah dan gurunya. Sudah enam bulan ia tak mau sekolah. Belum lagi Halim, yang malas sekali belajar dan sering berkelahi dengan Hafidz. Bahkan tak terasa bahwa tahun ini merupakan tahun ke-2 bagi nenekku tercinta, Amina Al Hamid, untuk rela menjalani masa senjanya dengan berbagai deraan penyakit. Ini adalah hari-hari yang terberat dalam kehidupanku. Hari-hari di mana aku harus melukis wajahku dengan air mata penderitaan orang-orang tercinta. Aku yakin ini adalah ujian dari Allah atas keimananku.
Tepat pukul dua siang, aku tiba di rumah. Yang pertama kutemui adalah ibuku, Latifa Al Hamid. Dengan mata yang berbinar, ia hampiri aku.
“Abdullah, kapan kau pulang nak? Kenapa tak ada pemberitahuan terlebih dahulu?”
Aku tertegun. “Begini Ummi2. Awalnya aku tak bisa pulang hari ini. Tugas-tugasku masih belum kuselesaikan semua. Tapi aku teringat, ada sesuatu yang harus aku ambil di rumah. Jadi maaf kalau aku tidak memberi kabar sebelumnya.”
“Sekarang lihatlah Abimu nak. Dia ada di kamar nenek. Tadi siang Kyai Mastur dan haji Mahmud datang ke sini dan menyarankan agar Abi sebaiknya tidur di kamar nenekmu. Rumah kita harus dikosongkan dahulu. Menurut mereka rumah kita harus diberi sarat3 untuk satu malam ini saja.”
Aku hanya bisa mengangguk dan lalu masuk ke kamar nenekku, Amina Al Hamid. Bau kamar nenek yang khas tercium. Kurasa ini wangi bunga melati dan daun sirih. Di dekat pintu tergantung kantong plastik berisi tasbih dan Al Quran yang biasa ia baca setelah shalat. Di bawah meja makan, kulihat perabot-perabot nenek yang masih utuh, tak dipakai sejak ia tempati kamar ini. Aku jadi teringat almarhum kakekku, Hamid Bakri, yang selalu mendidik anak cucunya dengan penuh kasih sayang, hingga lahirlah generasi-generasi penerusnya yang begitu dihormati di desa ini. Semoga ia merasa tenang di sana. Amin.
Abi masih terbaring di kasur. Aku tak berani membangunkannya. Aku takut kehadiranku menambah beban penyakit aneh yang ia derita. Namun, belum dua langkah aku menghampirinya, mata sayupnya terbuka perlahan dan tubuhnya mulai bergerak. Tangannya ia arahkan kepadaku. Aku menghampirinya dan segera kuraih kepalan tangannya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari lidahnya, begitu pula dari lidahku. Kami sama-sama terdiam membisu. Lama-kelamaan matanya terus memandangiku. Matanya berbinar harapan. Abi meraih tanganku sambil memberi isyarat agar telingaku dipasang di dekat mulutnya. Ada yang ingin ia bicarakan. Kuturuti permintaannya. Dengan penuh perhatian, aku mulai mendengarkannya.
# Zakaria Gafhur #
Aku meraih tangan Abdullah Zarkasy, anakku.
“ Bagaimana kabarmu nak?”
“Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Abi?” aku tak menjawab.
Abdullah memeriksa seluruh tubuhku. Tangan, kaki, kening dan perutku ia sentuh. Wajahnya mengerut, memikirkan sesuatu.
Sementara aku, masih bertahan dalam perjuangan melawan panas dan dinginnya tubuhku. Sungguh aku tak bisa menggerakkan semua anggota tubuhku dengan sempurna. Rasa sakit yang begitu pedih ini meluluhlantakkan semua energi dalam tubuhku. Dari semua anggota tubuhku yang ada, hanya hatiku yang masih berfungsi secara maksimal. Aku masih merasakan getaran-getaran iman. Sedang otakku, saraf-sarafku, dan detak jantungku, mulai saling berbenturan. Duhai kehidupan, cukuplah engkau jadi tempat aku belajar mencari keagungan Allah.
Aku yakin Allah takkan membiarkan aku berlarut-larut seperti ini. Sudah setengah abad lebih aku menginjakkan kaki di bumi-Nya. Sedang Abdullah dan keenam saudaranya adalah titipan Allah yang harus kujaga. Perjuangan hidupku adalah perjuangan hidup mereka. Dan kini harapanku tertuju pada anakku yang keempat, Abdullah Zarkasy. Kuyakin dialah yang mampu meneruskan perjuanganku. Dua tahun kini ia curahkan kehidupannya di sebuah perguruan tinggi Islam. Aku berharap jangan ada lagi anak-anaku yang bernasib sama seperti aku, yang tak pernah mengenyam pendidikan formal sekalipun. Meski sebenarnya aku termasuk yang paling beruntung di antara sahabat-sahabatku yang lain. Enam tahun lamanya aku ditempa di sebuah pondok pesantren tua, nun jauh di selatan Jawa Barat. Kini, aku telah menikmati dari separuh kejayaan hidupku. Pondok kecil di belakang rumahku telah menjadi saksi perjuanganku mendidik murid-muridku. Beberapa dari mereka sudah menyebarkan syiar agama di tempat kelahiran mereka. Aku sangat bersyukur atas semua karunia-Mu ya Rabb.
Kuperhatikan Abdullah masih erat memelukku, sambil menumpahkan air matanya. Tapi aku masih tak bisa menangkap dengan jelas apa yang ia katakan. Sayup-sayup terdengar suaranya menyulutkan hatiku.
“Berhentilah menangis nak. Ini bukan saatnya kau menyesali apa yang telah kau lakukan. Perjalanan hidupmu masih panjang. Sedangkan aku, usiaku sudah enam puluh tahun, hampir mendekati usia Rasulullah. Tubuhku tak mampu lagi menahan berat beban kehidupan di zaman yang begitu aneh ini. Tak mudah bagiku untuk memahami kehidupan di zaman yang serba berbeda dengan kehidupan di zaman dahulu nak!
Dokter bilang, aku tak punya penyakit apa-apa. Tapi aku sangat merasakan sakit yang memilukan ini. Karena itu kusimpulkan bahwa ini memang penyakit, penyakit yang menjadi sahabatku. Dialah yang akan menemaniku saat aku bertemu dengan Tuhanku. Bagiku engkaulah harapan pertama untuk meneruskan perjuanganku. Kelak setelah kau lulus, binalah majelis yang sudah kudirikan puluhan tahun lalu itu. Ummat sudah menunggu lama datangnya pemimpin di desa ini. Sekarang, usaplah air matamu. Cepatlah kau temui Ummi. Bicaralah padanya dan biarkan aku tetap di sini. Insya Allah, Allah memberkahimu nak.”
Abdullah bangkit dan melepaskan pelukannya dari tubuhku. Kepalanya tertunduk, sambil menyembunyikan binar mata yang redup. Semenit kemudian ia sudah tak tampak dari penglihatanku, meninggalkan kamar ini.
# Hilmah Zarkasy #
Sore menjelang maghrib. Aku baru saja selesai mengajar di Madrasah Ibtidaiyyah. Rasanya seluruh tubuhku sedang dibebani dengan batu-batu besar, pegal sekali. Ternyata mengajar anak-anak kecil lebih melelahkan dari mencuci pakaian berpuluh-puluh bak. Duhai... kuatkah aku bila harus terus bersabar menghadapi beban ini? Memasuki kamar, kulihat suamiku, Zahid, masih mendengkur di kasurnya.
“Ada baiknya kucuci pakaian yang belum kuselesaikan tadi pagi saja.”
Aku segera ke kamar mandi. Namun, bak cucian tadi pagi sudah tak ada di sana. Kuteliti di dekat penampungan air, tak ada juga. Siapa yang menyelesaikannya?
“Ummi.. Ummi tadi yang mencuci pakaian?”
“Bukan, tadi Abdullah yang mencucinya. Sekarang ia ada di kamarnya.”
“Apa? Abdullah??”
Aku menghampiri Abdullah, adikku. Dialah yang kucari-cari selama ini. Begitu teganya dia membiarkan Abi terbaring sakit dan tak mau pulang ke rumah barang sekali atau dua kali. Ia kini berada di kamarnya. Kupandangnya penuh tatapan.
“Abdullah... kau tidak kasihan melihat Abi terbaring sakit begitu saja? Kami di sini sudah kelelahan. Nenek tak henti-hentinya meminta diurusi, Hafidz sudah tak mau lagi sekolah, Latif tak bisa berjalan dengan baik, dan Ummi setiap hari mengurus Abi. Sedang aku masih punya kewajiban terhadap Zahid...Ke mana saja kau selama ini?”
Dengan tenangnya ia menghampiriku. Di tangannya tergenggam Al Quran. Ia memakai baju taqwa dan sarungnya yang khas, hijau muda.
“Tenanglah dulu Hilmah. Kita ini orang Islam, berbicaralah sesuatu dengan tenang dan lapang. Bukankah kau yang mengajariku untuk berbicara dengan lemah lembut?.”
“Bukan itu maksudku. Tapi selama ini di mana kesadaranmu?”, tanyaku dengan emosi.
“Hilmah. Tenanglah dulu. Kumohon dengarkan kata-kataku ini. Sudah satu bulan ini aku dibebankan tugas yang begitu banyak. Baik itu di dalam kuliahku, organisasiku, atau masalah pribadiku. Aku tahu Abi dan nenek sakit. Latif tertimpa musibah dan keadaan Hafidz masih seperti itu. Tapi bukan serta merta aku melupakan itu semua. Aku harus bisa membagi waktu untuk melakukan semua aktifitas keseharianku. Aku memang salah, sudah berbulan-bulan tidak pulang. Tapi mengertilah kakak, bukan karena aku lupa, aku tak pulang. Ingatlah, aku pasti akan membantu kalian semua. Aku mencintai kalian seperti aku mencintai diriku sendiri. Setelah lulus nanti, aku berjanji akan membangun desa ini, menggantikan Abi dan melanjutkan perjuangan beliau untuk masyarakat. Percayalah Hilmah!” jawabnya tegas. Aku hanya terdiam diri.
# Abdullah Zarkasy #
Astagfirullah. Semoga perkataanku barusan tidak membuat kakakku sakit hati. Aku sudah berkata sejujurnya. Hanya saja mungkin emosinya sedang tak terkendali. Aku tak bisa berlama-lama melihat ia berdiam diri seperti itu.
“Kakak. Aku ingin keluar dulu.” Ia hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Aku beranjak keluar kamar dan menemui Ummi untuk mengutarakan permohonan izin berangkat malam ini juga. Mulai besok aku harus kuliah lagi. Untunglah, Ummi mengizinkan. Segera kubereskan semua pakaian. Tak lupaku bawa secarik kertas yang kutulis tadi siang. Tulisan itu akan kujadikan motivasi dalam hidupku.
***
Malam Senin, pukul tujuh. Aku harus kembali ke ibu kota. Menjelang keberangkatan, Hilmah memelukku erat. Batinku teraba. Demi Allah, andaikan kau bukan saudara kandungku pun, sungguh aku menyayangimu kak!
“Maafkan aku Abdullah. Semua ini karena salahku. Sekarang berjuanglah. Kami di sini semua menunggumu,” ucapnya lirih. Matanya berbinar. Memancarkan sinar harapan.
Cipete, 26 Februari 2011
Untuk teman-temanku di asrama Al Azhar, ayo terus semangat menulis!
Keterangan:
1 Abi : ayah
2 Ummi : ibu
3 Sarat : sejenis terapi penyembuhan dengan memberi air minum yang sudah dibacakan doa; dengan mengosongkan rumahnya untuk didoakan oleh Kyai; banyak dilakukan di daerah Jawa Barat dan Banten.
SubhaanAllah..
BalasHapusBaarokAllahulakum.. Aamiin. ^_^
SEMANGAT TERUS KAKA.. \(^_^)/
I will always support you
Syukron jazil Milah... cerita di atas hanya curahan hati saja atas pengalaman hidup kaka yg kaka alami sekarang.
BalasHapusYa, kita tetap semangat! Mari kita kembangkan kemahiran menulis kita sebagai modal bagi seorang mahasiswa. :-)
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus