“Burdah Cinta”
##
Apakah karena ingat kekasih yang berada di
tangan Allah, kau cucurkan air mata bercampur darah?
Ataukah karena angin yang bertiup dari arah Kazimah
ataukah karena teringat cahaya kilat dalam gelap malam di ujung lembah?
Kalau tidak, mengapa kedua matamu tetap
mengalir yang mestinya kau mampu menahannya dan kenapa hatimu tetap gundah
padahal kau mampu menentramkannya?
Adakah orang yang sedang kasmaran menyangka
bisa merahasiakan rasa cinta? Sedangkan airmatanya bercucuran dan hati masih
terbakar api cinta?
Kalau tiada rasa cinta, tentulah kau tak akan
mencucurkan air mata saat teringat puing-puing rumah kekasih dan tidak akan
terjaga sepanjang malam saat teringat pepohonan dan rumput-rumput di tempat
kekasih
Kenapa kau masih malu akan cintamu, padahal kejujuran
air mata, sakit-sakitan adalah menjadi
saksi atas cintamu?
Rasa susah menetapkan dua garis yang terletak di kedua pipimu yang kuning
pucat karena sakit dan mata merahmu yang selalu menangis mencucurkan air mata
(itu adalah bukti cintamu)
Iya ... orang yang aku rindukan tiap malam,
bayangannya nampak di depan mataku yang membuatku tak bisa tidur , memang
sakitnya cinta itu menghalangi kenikmatan
Maafku untukmu wahai para pencela gelora
cintaku, seandainya kau bersikap adil tak kan kau cela aku
Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu
rahasiaku, padahal tidak juga kunjung sembuh penyakitku
Begitu tulus nasihatmu tapi tak ku dengar
semuanya karena untuk para penghalang cinta, sang pencinta itu tuli telinganya
Atau kukira kurus tubuhku pun turut mencelaku,
padahal tubuh kurusku pastilah tulus mengingatkan aku
Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak
tersadarkan, sebab tak tak mau tahu peringatan tubuh kurus dan sakit-sakitan
Tidak pula siap dengan amal baik untuk
menjamu, sang tubuh kurus yang bertamu di jasadku tanpa malu-malu
Jika kutahu aku tak menghormati kurus di
tubuhku bertamu, kan kusembunyikan dengan baju-baju tebal demi merahasiakan
kekurusanku
Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari
kesesatan, sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang?
Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat,
sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap
Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap
menyusu, bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu
Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia
berkuasa, jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela
Gembalakan ia, ia bagai ternak dalam amal
budi, janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai
Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang
mematikan, tanpa ia tahu racun justru ada dalam kelezatan makanan
Takutlah akan tipu daya dalam lapar dan kenyang, sering kali rasa lapar lebih
baruk dari pada kekenyangan
Cucurkanlah air matamu karena melihat segala
yang haram, peliharalah selalu rasa penyesalan yang mendalam
Lawanlah hawa nafsu dan setan, durhakailah, bila
mereka tulus menasehatimu, curigailah....
Jangan kau taati mereka sebagai musuh atau
kawan, karena kau tahu bagaimana tipu daya musuh dan kawan
Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa kuperbuat,
kusamakan itu dengan anak kecil yang nakal dan seenaknya berbuat
Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang
sebenarnya tak kulakukan, tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau
melakukan
Karena aku pun masih tiada punya tiang untuk
kupegang... Seraya berharap kita mampu membelahnya sekadar menancapkan rumah
dan tangga yang selalu terbayang...
SAZ
Juni 2016
tersadur dari goresan tinta Sang Imam Al-Busyiri