“Tiada yang lebih sabar dari ikan
sapu-sapu (Pterygoplichthys). Disimpan di kolam, bahagia, dipindahkan ke
baskom, berterima. Diam di air jernih atau di lumpur, ia tetap bersyukur.
Diberi makan pelet, senang, lupa diberi makan, ia lumat lumut itu. Ketika pompa
air mati, disergapnya oksigen langsung dari udara. Ia bisa hidup dengan siapa
saja, apakah koi, red sumatera, atau nila. Banyak kaca akuarium berhutang
bersih kepadanya. Ia tahu bukan pilihan menu ikan bagi manusia oleh sebab itu
ia terima dirinya apa adanya. Jika nasib membuat tubuhnya berwarna-warna, ia
tak jadi jumawa, namun juga ia tak pernah rendah diri di hadapan ikan-ikan lain
jika tubuhnya hitam sewarna saja.”
Dari ‘Guru’ Sastrawan: Pak Cecep
Samsul Hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar