Minggu, 28 April 2013

Ustadz Jefry dan Hikmah Takdir Kematian


 
     Fajar di hari Jumat, 26 April 2013 adalah saat yang penuh hikmah dan berkah, di mana hari itu telah wafat da’i muda yang inspiratif, muballigh muda yang energik, ustadz muda yang rendah hati, yaitu Al-Marhum Ustadz Jefry Al-Bukhary. Cara Allah menjemputnya bukanlah jadi perkara, namun takdir-Nya nan penuh hikmahlah yang mesti ditenggara.

      Wallahi... kalau mau mengakui, sedih rasanya selama ini bila melihat beliau dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, terutama oleh para pembenci da’i selebriti yang menganggap bahwa da’i selebriti hanya memanfaatkan popularitas untuk eksploitasi dakwah dan ajang meraup berkah. Padahal, kalau memperhatikan bagaimana kisah hidupnya, kisah dakwahnya, dan kisah wafatnya, Allahu yarham, sungguh membuat hati sedih dan terharu dicampur bangga serta penuh sesal karena belum sempat bertemu dengan beliau.
     Apalagi bila membaca tulisan di akun twitter beliau sebulan sebelum kematiannya, betapa kita akan tergugah untuk mengakui bahwa kita memang harus bertaubat sebelum ajal menghampiri kita tanpa diketahui kapan datangnya.
 “Semua pasti akan menemui yang namanya titik jenuh. Dan pada saat itu, kembali adalah yang terbaik. Kembali pada siapa?? Kepada ‘DIA’ yang pastinya. Bismika Allahumma ahya wa amuut “.  
     Empat puluh tahun, adalah angka terbaik yang Allah pilih untuk mengisi umur dan usia sang ‘Ustadz Gaul’ ini. Dari 12 April 1973 hingga 26 April 2013. Takdir kematian yang semuda, se-‘mendadak’ dan secepat itu dia rasakan, sementara jutaan ummat sangat mencintai dan masih ingin menggali rahasia nasihat-nasihatnya, adalah bagian dari bukti betapa suami Teh Pipik bukanlah ‘orang biasa’. Puluhan ribu jamaah Masjid Istiqlal Jakarta adalah saksinya. Siang itu, bakda shalat Jumat, jenazah Ustadz Jefry Al-Bukhary dishalatkan oleh seluruh jama’ah masjid negara itu. Sebelumnya, firasat kepergiannya pun sempat tercium oleh rekan dekatnya, Ustadz Soleh Mahmud yang pernah dihadiahi cincin dan peci pada suatu hari. Setelah mengisi ceramah di sebuah tempat, Uje mewasiatkan kepada Ustadz Soleh untuk segera meneruskan tugas dakwahnya itu. Hal ini melahirkan firasat yang tak baik buat Ustadz Soleh. Tidak lama kemudian, di bulan April 2013, Uje benar-benar telah tiada.
     Di antara deretan da’i muda di Indonesia, beliau adalah salah satu pewaris ‘gaya’ campuran semua da’i. Hampir semua sahabatnya, terutama sesama da’i selebriti, –secara tak langsung- mengakui hal itu. Gaya retoriknya terinspirasi dari KH Zainuddin MZ sang da’i sejuta ummat. Kekhasan gaya gaul-nya mengingatkan kita pada sosok Habib Metal dan Ustadz Alwi Assegaf Muysrif Al-Busyro. Kerendah-hatiannya merupakan lukisan dari kepribadian para muballigh kharismatik Indonesia sekaliber KH Hasyim Muzadi, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), KH Arifin Ilham, Syeikh Ali Jaber dan lain-lain. Kerendah-hatian lelaki yang akrab disapa Uje ini tercermin dalam kalimat khas dalam pendahuluan ceramahnya; “Hadirin yang mulia. Mohon maaf, punteun, yang berbicara ini tidak lebih baik dari yang mendengarkan” (hingga diulang 3 kali).
        Meski pernah singgah di dalam dunia narkoba dan pergaulan bebas, Uje sang ustadz pecinta moge ini akhirnya ‘berhasil’ kembali pada fitrah terbaiknya sebagai muslim sejati yang berusaha menjadi khairun-naas. Dalam suatu majelis ilmu, dengan mengutip kisah hidupnya sebagai ‘ibrah, Uje mengatakan bahwa setiap muslim sebenarnya laksana emas yang berharga.  Emas, di mana pun berada, tetaplah emas, meski harus ‘kecebur’ di dalam got. Apabila emas itu kita ambil lalu dicuci, maka kembalilah dia bersih dan berkilau. Seperti itulah umpama muslim sejati. Seberapa pun dosa dan khilaf yang dia perbuat, akan kembali bersih bila benar-benar mau bertaubat.
       Terlepas dari semua latar belakang riwayat hidupnya yang sempat pernah nyleneh, namun Uje tetaplah Uje. Dialah muballigh muda sang penebar nasihat dan hikmah. Salah satu isi ceramahnya yang terakhir di acara Damai Indonesiaku - TV One, menuntunku menggores inspirasi ini:
     “Hikmah dari beriman kepada takdir Allah  adalah; Pertama, agar tidak berputus asa karena mendapat cobaan dan musibah. Kedua, agar tidak sombong karena mendapat nikmat dan anugerah. Dan, mati adalah takdir Allah yang tak bisa dirubah”.
        Selamat jalan, Uje.. Jejak langkahmu dalam dakwah adalah mutiara yang tak mungkin punah. :’) Allahummagfir lahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu anhu. Aamiin. 
 
SAZ, April 2013

Selasa, 09 April 2013

Sepuluh Kebiasaan Baik

1.           الاختيار الصحية العادية، وإن لم يكن مريضا

Periksa kesehatan secara teratur, walau tidak sakit

2.             شرب الكثير من الماء الدافئ، وإن لم تكن عطشى
Banyak minum air hangat, walau tidak haus

3.             حل جميع المشاكل، وعلى الرغم من صعوبة مثل أي
Selesaikan semua masalah, walau sesulit apapun

4.            المتعة أيضا، رغم عدم وجود شيء لطيف
Tetaplah bergembira, walau tidak ada hal yang menyenangkan

5.           ليس هناك ضرر في الاستسلام، وإن كان في حق
Tidak ada salahnya mengalah, walau di pihak yang benar

6.           إبقاء النبيلة، على الرغم من وجود قوة
Tetaplah berkepribadian luhur, walau memiliki kekuasaan

7.          أخذ قسط من الراحة على الرغم من عدم الشعور بالتعب
Beristirahatlah walau tidak merasa lelah

8.           لا تزال تحد أنفسهم الأثرياء على الرغم من غني كان
Tetap membatasi diri walau sudah kaya raya

9.         لا تزال تتذكر هذه العملية، على الرغم من مشغول جدا
Tetap ingat berolahraga, walau sangat sibuk

10.     ينبغي أن تظل لبعضنا البعض، وإن لم يكن يحدث
Harus tetap saling memperhatikan, walau tidak terjadi apa-apa 


SAZ